Selasa, 12 Januari 2016

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Kamis, 22 Oktober 2015
Ruang 306,  jam 07.30 – 09.10 WIB

Refleksi kali ini diawali dengan pertanyaan yang diajukan oleh salah satu mahasiswa terkait kajian filsafat mengenai pengalaman. Prof. Dr. Marsigit memulai penjelasannya dengan ketidaksempurnaan manusia yang hanya dapat memandang segala sesuatunya dari satu sisi atau tidak utuh.  Namun ketidaksempurnaan yang dimiliki manusia tersebutlah yang akhirnya membuat manusia dapat hidup, jika diberikan satu hal saja kesempurnaan justru manusia tidak akan dapat hidup. Hal itu yang menunjukkan kehebatan Tuhan yang memberikan kehidupan bagi manusia melalui ketidaksempurnaan.
Misalnya: ada seorang manusia yang diberi salah satu kesempurnaan, seperti kesempurnaan pendengaran, bukankan hal tersebut justru akan membuat manusia mengalami stress, karena ia mampu mendengar berbagai suara dengan sangat sempurna bahkan yang terkecil dan terjauh pun bahkan hingga ke akhirat.
Pengalaman itu merupakan separuhnya dunia, oleh karenanya membangun pengetahuan itu setegahnya pengalaman, yang separuhnya merupakan logika yang kedudukannya berada di atas. Berfilsafat itu merupakan mempraktikan pikiran anda, dan memikirkan pengalaman anda yang bersifat dinamis setiap harinya. Sehingga sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara pikran dan pengalaman.
Seorang dokter yang melayani pasiennya melalui telepon dengan cara menanyakan gejala yang mungkin dialami pasien untuk melakukan diagnosA penyakitnya merupakan contoh dari proses analitik a priori, yaitu proses olah pikir tanpa adanya pemeriksaan fisik. Dokter tersebut menggunakan pengetahuannya untuk melakukan diagnosa penyakit. Namun untuk dokter hewan prosesnya tentu berbeda. Dokter hewan ketika mengobati pasiennya yang merupakan hewan, melakukan pemeriksaan fisik, seperti menyentuh, menekan bagian tertentu. Hal tersebut dilakukan dalam rangka diagnosa penyakit yang dialami pasien. Proses tersebut merupakan proses sintetik a posteriori yaitu kehidupan berdasarkan pengalaman.  Contoh lain sintetik a posteriori adalah “jangankan engkau, aku saja ini berbeda dengan aku yang sekarang.
Dunia itu transenden, semakin ke atas semakin konsisten dan merupakan wilayah spiritual yang semakin tunggal atau monoisme yaitu kuasa Tuhan. Sedangkan semakin ke bawah atau ke bumi semakin dinamis dan penuh kontradiksi. Langit merupakan dunianya para dewa, dimana mereka tidak memiliki kesalahan. Para dewa itu misalnya kakak yang tidak memiliki kesalahan atau selalu benar di depan adiknya, dosen yang datang dan duduk dimana saja tidak ada kesalahan di depan mahasiswa. semakin tinggi semakin kecil mengalami kontradiksi, maka sebenar-benarnya tidak ada kontradiksi yaitu Tuhan yang absolute. Semakin ke bawah semakin besar kontradiksinya yang ada pada predikatnya.  Misalnya ketua yang melihat anggotanya penuh dengan kesalahan, namun para anggotanya melihat ketua dengan sebaliknya tidak ada kesalahan. Berdasarkan hal tersebut Immanuel Kann berusaha untuk mendamaikan antara dunia atas (langit) dan dunia bawah (bumi). Langit yang konsisten didamaikan dengan mengambil a priori yang kemudian disatukan dengan sintetiknya pengalaman (bumi).  Jadi sebanr-benarnya ilmu menurutnya adalah sintetik a priori sehingga ilmu akan kokoh dan lengkap. Sifat pengetahuan yang ada dalam pengetahuan itu adalah analitik dimana ukuran kebenarannya adalah konsisten. Sedangkan sifat pengetahuan pengalaman adalah sintetik yang kontradiksi yang nantinya akan menghasilkan produk baru. Pandangan demikian tidak memuaskan para matematikawan murni yang mengganggap “math is for math” adalah separuh dunia.
Sifat para malaikat atau dewa tetap, sedangkan sifat manusia di bumi sintetik. Sifat tersebutn merupakan salah satu sifat yang menonjol dalam dunia pikiran yang berisi banyak sekali sifat. Filsafat itu jika ditarik keberlakuannya selaras dengan apa yang ada dalam pikiran. Maka matematika murni obyeknya adalah benda pikir dimana terbebas ruang dan waktu. Misalnya meski siang saya dapat membayangkan malam karena ada dalam pikiran, jauh dapat dipikirakan dekat dan sebaliknya, itulah dapat menembus ruang dan waktu. Dunia pikiran bersifat ideal, tetap dan menuju kesempurnaan. Hal tersebut berkesinambungan dengan para tokoh filsafat berkemistri dengan ide-ide yang ada dalam pikiran mulai dari absolutisme, perminides (tetap), rasionalisme, dan lain sebagainya.
Umumnya pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa, berinteraksi, dengan anak-anak yang merupakan dunia bawah yang berada di luar pikiran, konkrit, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak-anak berbeda dengan ilmu orang dewasa. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktivitas, misalnya matematika bagi anak-anak adalah aktivitas matematika, seni bagi anak-anak aktivitas seni seperti corat coret. Pembelajaran UN atau hapalan itu kontradiksi karena hal tersebut mencerabut untuk berperilaku secara instan dan seperti orang dewasa. Visi pendidik adalah melindungi anak didiknya dari kesemena-menaan metode mendidik yang tidak memahami cara mendidik anak karena mendidik bukan ambisi agar anak didik menjadi seperti pendidiknya. Menurut filsafat, mendidik anak bukan dengan cara menyuguhi mereka, guru berfungsi sebagai fasilitator belajar anak.
Seseorang dikatakan ada jika ada 3 komponen, yaitu ada, mengada, dan pengada. Ada itu potensi, mengada itu ikhtiar, dan pengada itu produknya.
Dunia sendiri mengalami dilemma atau anomali karena kekuatan pikiran memproduksi resep atau rumus-rumus untuk digunakan, semakin  naik menjadi postulat-postulat kehidupan yang tinggi atau absolut yaitu firman Tuhan yang turun ke bumi menjadi rumusan kehidupan. Kekuatan pikiran/“the power of mind” matematika terbebas ruang dan waktu sehingga dapat merekayasa pikiran untuk mengkontruk konsep-konsep sebagai resep kehidupan, hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah perubahan.  Peradaban itu merupakan produk dari kekuatan suatu pikiran/“the power of mind”, namun sayangnya semua anak-anak tidak terkecuali harus mengikuti langkah orang dewasa dalam produk pikir demikian.
Filsafat sendiri merupakan dirimu, tidak perlu jauh mengikuti para tokoh Yunani ketika berfilsafat. Jadi yang namanya demokratis, romantis, pragmatis, dan lainnya tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri (mikrokosmis). Makrokosmisnya adalah naik ke atas menuju pikiran para filsuf, sejarah, dan lain-lain.
Filsafat peduli ruang dan waktu, apalagi tujuan untuk memperoleh kebahagiaan itu melalui oleh pikir, maka bersifat kontekstual masing-masing individunya. Hidup bahagia itu berkemistri dengan konteksnya. Strukturnya jelas, yang dikembangkan dari material – formal – normatif – spiritual. Jadi semacam kerucut menutupi dan menjiwai dan itulah spiritualnya.

Filsafat yang dikembangkan Pak Marsigit adalah yang demikian yaitu konteks spiritual “tetapkanlah hatimu sebelum engkau menggembarakan pikiranmu, jika tidak kau tetapkan hatimu maka bisa jadi pikiranmu tidak akan kembali”. Masing-masing memiliki filsafatnya masing-masing, di berbagai level dunia, berbagai suku bangsa pun demikian yaitu berinteraksi dengan filsafatnya masing-masing. Manfaat dari berfilsafat adalah, anda akan mampu menjelaskan posisi anda secara spiritualis seperti apa. Kalau di Amerika Serikat bebas saja boleh beragama atau tidak. Indonesia memiliki tata pemerintahan dari bawah hingga ke formal monodualis yaitu pancasila dan UUD tahun 1945. Monodualis juga dapat berarti hablumminallah dan hablumminannas. Monodualis Indonesia salah satunya adalah filsafat pancasila, mau bagaimana pun kontradiksi yang tetap demikian bertahan karena konteksnya Indonesia ketuhanan yang Maha Esa, meskipun meletakkan fondasi tersebut tidak mudah namun hal tersebut sudah mengakar dalam budaya Indonesia. Dunia itu berstruktur, pagi – sore, siang – malam, laki-laki – perempuan, pengalaman. Pengalaman sendiri merupakan abstraksi, adapun abstraksi yang digunakan  dalam perkuliah ini adalah struktur pemikiran para filsuf. Jadi segala filsafat apabila hendak menjawab berbagai pertanyaan dengan kesadaran full struktur itu dapat di lihat dari berbagai macam kedudukan strukturnya. Misalnya wadah itu dimana, bergantung pada strukturnya yang bisa saja pagi atau siang atau malam atau laki-laki atau perempuan. Perempuan itu wadahnya kelembutan, sedangkan laki-laki itu wadahnya perkasa, sigap, sedangkan isinya adalah penakut (kontradiksinya wadah). Wadah berada dimana – mana, yang dipikirkan, disebut ada wadah sekaligus isi yang mempunyai sifat. Sebenar-benarnya dunia itu full of sifat, sebenar-benarnya hidup itu adalah sifat itu sendiri. Jadi “aku” dapat berganti setiap hari mendefinisikan apa itu hidup dari yang ada dan mungkin ada. Berfilsafat tujuannya menyadari adanya struktur, setiap sifat mewakili struktur, setiap pertanyaan adalah struktur, setiap kata adalah gunung es struktur. Jika engkau tidak dapat menjawab pertanyaanku maka diantara engkau dan aku masih terdapat celah sehingga engkau belum bisa memahami struktur pikiranku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar