Refleksi Perkuliahan
Filsafat Ilmu
Kamis, 22 Oktober 2015
Ruang 306, jam 07.30 – 09.10 WIB
Refleksi kali ini diawali dengan
pertanyaan yang diajukan oleh salah satu mahasiswa terkait kajian filsafat
mengenai pengalaman. Prof. Dr. Marsigit memulai penjelasannya dengan
ketidaksempurnaan manusia yang hanya dapat memandang segala sesuatunya dari
satu sisi atau tidak utuh. Namun
ketidaksempurnaan yang dimiliki manusia tersebutlah yang akhirnya membuat
manusia dapat hidup, jika diberikan satu hal saja kesempurnaan justru manusia
tidak akan dapat hidup. Hal itu yang menunjukkan kehebatan Tuhan yang
memberikan kehidupan bagi manusia melalui ketidaksempurnaan.
Misalnya: ada seorang manusia yang diberi
salah satu kesempurnaan, seperti kesempurnaan pendengaran, bukankan hal
tersebut justru akan membuat manusia mengalami stress, karena ia mampu
mendengar berbagai suara dengan sangat sempurna bahkan yang terkecil dan
terjauh pun bahkan hingga ke akhirat.
Pengalaman itu merupakan separuhnya dunia,
oleh karenanya membangun pengetahuan itu setegahnya pengalaman, yang separuhnya
merupakan logika yang kedudukannya berada di atas. Berfilsafat itu merupakan
mempraktikan pikiran anda, dan memikirkan pengalaman anda yang bersifat dinamis
setiap harinya. Sehingga sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara pikran
dan pengalaman.
Seorang dokter yang melayani pasiennya
melalui telepon dengan cara menanyakan gejala yang mungkin dialami pasien untuk
melakukan diagnosA penyakitnya merupakan contoh dari proses analitik a priori, yaitu proses olah pikir tanpa
adanya pemeriksaan fisik. Dokter tersebut menggunakan pengetahuannya untuk
melakukan diagnosa penyakit. Namun untuk dokter hewan prosesnya tentu berbeda.
Dokter hewan ketika mengobati pasiennya yang merupakan hewan, melakukan
pemeriksaan fisik, seperti menyentuh, menekan bagian tertentu. Hal tersebut
dilakukan dalam rangka diagnosa penyakit yang dialami pasien. Proses tersebut
merupakan proses sintetik a posteriori
yaitu kehidupan berdasarkan pengalaman.
Contoh lain sintetik a posteriori
adalah “jangankan engkau, aku saja ini berbeda dengan aku yang sekarang.
Dunia itu transenden, semakin ke atas
semakin konsisten dan merupakan wilayah spiritual yang semakin tunggal atau
monoisme yaitu kuasa Tuhan. Sedangkan semakin ke bawah atau ke bumi semakin
dinamis dan penuh kontradiksi. Langit merupakan dunianya para dewa, dimana
mereka tidak memiliki kesalahan. Para dewa itu misalnya kakak yang tidak
memiliki kesalahan atau selalu benar di depan adiknya, dosen yang datang dan
duduk dimana saja tidak ada kesalahan di depan mahasiswa. semakin tinggi
semakin kecil mengalami kontradiksi, maka sebenar-benarnya tidak ada
kontradiksi yaitu Tuhan yang absolute. Semakin ke bawah semakin besar
kontradiksinya yang ada pada predikatnya.
Misalnya ketua yang melihat anggotanya penuh dengan kesalahan, namun
para anggotanya melihat ketua dengan sebaliknya tidak ada kesalahan.
Berdasarkan hal tersebut Immanuel Kann berusaha untuk mendamaikan antara dunia
atas (langit) dan dunia bawah (bumi). Langit yang konsisten didamaikan dengan
mengambil a priori yang kemudian
disatukan dengan sintetiknya pengalaman (bumi).
Jadi sebanr-benarnya ilmu menurutnya adalah sintetik a priori sehingga ilmu akan kokoh dan
lengkap. Sifat pengetahuan yang ada dalam pengetahuan itu adalah analitik
dimana ukuran kebenarannya adalah konsisten. Sedangkan sifat pengetahuan
pengalaman adalah sintetik yang kontradiksi yang nantinya akan menghasilkan
produk baru. Pandangan demikian tidak memuaskan para matematikawan murni yang
mengganggap “math is for math” adalah
separuh dunia.
Sifat para malaikat atau dewa tetap,
sedangkan sifat manusia di bumi sintetik. Sifat tersebutn merupakan salah satu
sifat yang menonjol dalam dunia pikiran yang berisi banyak sekali sifat.
Filsafat itu jika ditarik keberlakuannya selaras dengan apa yang ada dalam
pikiran. Maka matematika murni obyeknya adalah benda pikir dimana terbebas
ruang dan waktu. Misalnya meski siang saya dapat membayangkan malam karena ada
dalam pikiran, jauh dapat dipikirakan dekat dan sebaliknya, itulah dapat
menembus ruang dan waktu. Dunia pikiran bersifat ideal, tetap dan menuju
kesempurnaan. Hal tersebut berkesinambungan dengan para tokoh filsafat
berkemistri dengan ide-ide yang ada dalam pikiran mulai dari absolutisme,
perminides (tetap), rasionalisme, dan lain sebagainya.
Umumnya pendidikan itu karena kita
mengelola, berjumpa, berinteraksi, dengan anak-anak yang merupakan dunia bawah
yang berada di luar pikiran, konkrit, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak-anak
berbeda dengan ilmu orang dewasa. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktivitas,
misalnya matematika bagi anak-anak adalah aktivitas matematika, seni bagi
anak-anak aktivitas seni seperti corat coret. Pembelajaran UN atau hapalan itu
kontradiksi karena hal tersebut mencerabut untuk berperilaku secara instan dan
seperti orang dewasa. Visi pendidik adalah melindungi anak didiknya dari
kesemena-menaan metode mendidik yang tidak memahami cara mendidik anak karena
mendidik bukan ambisi agar anak didik menjadi seperti pendidiknya. Menurut
filsafat, mendidik anak bukan dengan cara menyuguhi mereka, guru berfungsi
sebagai fasilitator belajar anak.
Seseorang dikatakan ada jika ada 3
komponen, yaitu ada, mengada, dan pengada. Ada itu potensi, mengada itu
ikhtiar, dan pengada itu produknya.
Dunia sendiri mengalami dilemma atau
anomali karena kekuatan pikiran memproduksi resep atau rumus-rumus untuk
digunakan, semakin naik menjadi
postulat-postulat kehidupan yang tinggi atau absolut yaitu firman Tuhan yang
turun ke bumi menjadi rumusan kehidupan. Kekuatan pikiran/“the power of mind” matematika terbebas ruang
dan waktu sehingga dapat merekayasa pikiran untuk mengkontruk konsep-konsep
sebagai resep kehidupan, hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah perubahan. Peradaban itu merupakan produk dari kekuatan
suatu pikiran/“the power of mind”,
namun sayangnya semua anak-anak tidak terkecuali harus mengikuti langkah orang
dewasa dalam produk pikir demikian.
Filsafat sendiri merupakan dirimu, tidak
perlu jauh mengikuti para tokoh Yunani ketika berfilsafat. Jadi yang namanya
demokratis, romantis, pragmatis, dan lainnya tidak lain tidak bukan adalah
dirimu sendiri (mikrokosmis). Makrokosmisnya adalah naik ke atas menuju pikiran
para filsuf, sejarah, dan lain-lain.
Filsafat peduli ruang dan waktu, apalagi
tujuan untuk memperoleh kebahagiaan itu melalui oleh pikir, maka bersifat
kontekstual masing-masing individunya. Hidup bahagia itu berkemistri dengan
konteksnya. Strukturnya jelas, yang dikembangkan dari material – formal –
normatif – spiritual. Jadi semacam kerucut menutupi dan menjiwai dan itulah
spiritualnya.
Filsafat yang
dikembangkan Pak Marsigit adalah yang demikian yaitu konteks spiritual
“tetapkanlah hatimu sebelum engkau menggembarakan pikiranmu, jika tidak kau
tetapkan hatimu maka bisa jadi pikiranmu tidak akan kembali”. Masing-masing
memiliki filsafatnya masing-masing, di berbagai level dunia, berbagai suku
bangsa pun demikian yaitu berinteraksi dengan filsafatnya masing-masing.
Manfaat dari berfilsafat adalah, anda akan mampu menjelaskan posisi anda secara
spiritualis seperti apa. Kalau di Amerika Serikat bebas saja boleh beragama
atau tidak. Indonesia memiliki tata pemerintahan dari bawah hingga ke formal
monodualis yaitu pancasila dan UUD tahun 1945. Monodualis juga dapat berarti
hablumminallah dan hablumminannas. Monodualis Indonesia salah satunya adalah
filsafat pancasila, mau bagaimana pun kontradiksi yang tetap demikian bertahan
karena konteksnya Indonesia ketuhanan yang Maha Esa, meskipun meletakkan
fondasi tersebut tidak mudah namun hal tersebut sudah mengakar dalam budaya
Indonesia. Dunia itu berstruktur, pagi – sore, siang – malam, laki-laki –
perempuan, pengalaman. Pengalaman sendiri merupakan abstraksi, adapun abstraksi
yang digunakan dalam perkuliah ini
adalah struktur pemikiran para filsuf. Jadi segala filsafat apabila hendak
menjawab berbagai pertanyaan dengan kesadaran full struktur itu dapat di lihat dari berbagai macam kedudukan
strukturnya. Misalnya wadah itu dimana, bergantung pada strukturnya yang bisa
saja pagi atau siang atau malam atau laki-laki atau perempuan. Perempuan itu
wadahnya kelembutan, sedangkan laki-laki itu wadahnya perkasa, sigap, sedangkan
isinya adalah penakut (kontradiksinya wadah). Wadah berada dimana – mana, yang
dipikirkan, disebut ada wadah sekaligus isi yang mempunyai sifat.
Sebenar-benarnya dunia itu full of
sifat, sebenar-benarnya hidup itu adalah sifat itu sendiri. Jadi “aku” dapat
berganti setiap hari mendefinisikan apa itu hidup dari yang ada dan mungkin
ada. Berfilsafat tujuannya menyadari adanya struktur, setiap sifat mewakili
struktur, setiap pertanyaan adalah struktur, setiap kata adalah gunung es
struktur. Jika engkau tidak dapat menjawab pertanyaanku maka diantara engkau
dan aku masih terdapat celah sehingga engkau belum bisa memahami struktur
pikiranku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar