Selasa, 12 Januari 2016

Perkuliahan Filsafat Ilmu, 17 September 2015
Pukul 07.30 WIB
Sintesis, Tesis dan Antitesis dalam berfilsafat ilmu
tesis = semua yang “ada” dan “mungkin ada”, setiap yang didengar, disentuh, dilihat, dipikirkan tanpa terkecuali.
Antitesis = segala sesuatu yang bukan atau diluar tesis.
Ilmu merupakan sintesis dari tesis dan antithesis
tesis + antitesis (bersintesis) = ilmu

Berfilsafat adalah bagaimana menerapkan logika dan memikirkan pengalaman yang ada. Jika salah satu saja dari keduanya, maka  hidupnya hanya sebagian saja/tidak utuh.
Sebagaimana telah dikemukakan dipertemuan sebelumnya bahwa obyek filsafat adalah sesuatu yang “ada” dan “mungkin ada”. Sesuatu yang “ada” dapat disebutkan oleh seseorang dan jumlahnya tak terhingga, namun manusia memiliki keterbatasan untuk menyebutkan semua yang “ada” karena manusia tidak memiliki kesempurnaan sebagaimana sempurnya Tuhan. Sedangkan sesuatu yang “mungkin ada”, merupakan segala seuatu yang bisa atau mungkin diketahui, misalnya adalah tanggal lahir seseorang yang sebelumnya belum diketahui, atau yang lainnya.

Bersilfafat merupakan aktivitas berfikir atau olah pikir, sehingga persoalan filsafat hanya terdiri dari 2 macam, yaitu:
1.      Jika yang dipikirkan dirimu berada di dalam pikiranmu, persoalannya adalah bagaimana mengungkapkannya kepada orang lain. padahal dirimu tidak cukup mampu mengungkapkan semua hal yang ada di dalam pikiranmu. Manusia hanya berusaha untukmenjelaskan yang ada di dalam pikirannya. Maka,sebenar-benarnya berfilsafat hanya berusaha menjelaskan sesuatu namun tidak pernah mampu untuk menjelaskan.
2.      Jika yang kau pikirkan berada di luar pikiranmu, bagaimana aku bisa menjelaskan dirimu.

Teori tentang jeberadaan sesuatu atau kebenaran menurut beberapa ahli:
1.      Plato
Platonism/idealism = segala sesuatu ada atau kebenaran adanya dalam pikiran/yang dipikirkan, yang kelihatan hanyalah suatu contoh. Pemikiran Plato dapat diterapkan pada pembelajaran orang dewasa.
2.      Aristoteles
Segala sesuatu ada/kebenaran itu adalah segala sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, diraba, dicium, dsb. Pemikirannya sangat cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran anak-anak.
Prinsip berpikir sendiri ada dua menurut Immanuel kant, yaitu:
1.      Prinsip identitas
2.      Prinsip kontradiksi
Example: rambut berwarna hitam, namun hitam selamanya tidak akan pernah sama dengan rambut.
Sehingga sebenar-benarnya ilmu adalah hasil proses sintesis pikiran dengan pengalaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar