Selasa, 12 Januari 2016

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Kamis, 29 Oktober 2015
Ruang 306 lantai,  jam 07.30 – 09.10 WIB

Bismillahirohmannirohim
Assalammu’laikum Wr. Wb.
Seperti biasa perkuliahan pada pagi hari ini dimulai dengan kuis atau tes yang diajukan Bapak Marsigit terkait filsafat, diantaranya material, formal, normatif dan spiritual. Seperti biasa pula tidaklah mengherankan jika nilai yang kami dapatkan kisaran 0-10 saja. Selanjutnya perkuliahan kali ini diisi dengan sesi tanya jawab, adapun beberapa pertanyaan yang diajukan mahasiswa PEP TA 2015 Kelas B, sebagai berikut:

1.      Mengapa masih saja saya tidak mampu menjawab pertanyaan dari bapak di setiap kali kuis atau tes meskipun saya sudah membaca elegi-elegi Bapak?

Filsafat itu dirimu sendiri. Filsuf besarpun menjawab pertanyaan-pertanyaan saya  bisa mendapat 0, maka metode filsafat itu hidup. Metode hidup itu terjemah menterjemahkan. Terjemahkanlah diriku bukan aksesorisnya tetapi pikirannya, caranya adalah dengan membaca. Kemudian aku menerjemahkan dirimu dengan cara bertanya dan ternyata masih kurang”. Pada dasarnya manusia hanya dapat membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat tetapi harus terus dilanjutkan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak hanya untuk mengetahui pikiran mahasiswa tetapi sebagai sarana mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada bagi masing-masing mahasiswa. setidaknya setelah mendapatkan pertanyaan mereka memiliki kesadaran untuk menembus ruang dan waktu.

Jangankan manusia, hewan, tumbuhan, batu pun demikian menembus ruang dan waktu, contohnya tidak ada batu yang protes apabila kehujanan, kalau pun protes batu tersebut menembus ruang dan waktu dengan berbagai metodologi ruang tertentu. tetapi diam disitu “aku” sebut di depannya itu menembus waktu. Contoh pada hari kamis/pada hari ini/pada tahun ini,dll kabut asap…. Apakah ada yang tidak dikaitkan dengan waktu, silahkan menyebutkan sifat dari sekian miliar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu. Bahkan notabene yang terbebas dari ruang dan waktu yang ada dalam pikiran anda. Contoh 2 + 2 = 4 (identitas). Tetapi kalau hari ini 2 + 2 = 4 tidak terbebas dari waktu. Ketika sesuatu itu terikat ruang dan waktu itu bersifat kontradiktif, ada sifat-sifatnya, dan sifat itu bersifat sub-ordinat, menjadi predikat dari obyeknya.

2.      Bagaimana filsafat dalam pendidikan Indonesia dan bagaimana peran filsafat untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia?

Hal tersebut dijelaskan oleh Pak Marsigit sudah lengkap dijelaskan pada blognya. Namun beliau menambahkan untuk mengetahui praksis pendidikan alangkah baiknya juga mengetahui  landasan, latar belakang dan masa depan pendidikan . hal tersebut adalah wadah dari filsafat pendidikan, belajarlah filsafat untuk mengetahuinya, karena disana terdapat pilot-pilotnya, ideology pendidikan, politik pendidikan, pendidikan kontekstual,. Tidak perlu mengkajinya hingga ke luar negeri karena di Indonesia dapat ditemui hal-hal tersebut.

3.      Apakah filsafat dapat digunakan untuk berinteraksi dengan makhluk lain, seperti hewan, tumbuhan?

Filsafat itu merupakan wacana, bahasa, penjelasan, maka akan ada jarak diantara penjelasan dan praksisnya. Fisafat itu merupakan olah pikir, sehingga semua olah pikir yang ada digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena termasuk fenomena ghaib, dimana semakin naik ke atas merupakan ranah spiritual serta turun menjadi ranah psikologi. Dalam filsafat itu lengkap kajiannya, ada spiritual, psikologi, yang bagi orang awam menyebutnya sebagai ilham. Spiritual menunjuk pada Tuhan. Jika seseorang mendapatkan pencerahan tetapi tidak mengetahui dari mana sebabnya atau datang begitu saja itu dinamakan ilham. Ternyata jika kita mau meneliti dari setiap yang ada dan mungkin ada, “aku” selalu mendapatkan ilham. “Aku” dapat menjawab pertanyaan karena mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham. “Kamu” bisa tidak menjelaskan seberapa tidak proses dalam pikiranmu dalam menjawab tadi, dan tidak akan bisa sempurna dan pada akhirnya itu merupakan ilham juga. Wahyu itu juga merupakan ilmu, hanya saja orang dahulu dipersonifikasikan sebagai benda hidup karena audiensinya tradisonal. Contoh adalah ketika arjuna pergi ke dalam hutan yang sepi untuk menyendiri, menyepi, jika sepi bagi saat ini engkau itu adalah berdiam di kamar membaca elegi Pak Marsigit disitulah engkau mendapatkan pengetahuan yang banyak seklai dari yang ada dan mungkin ada. Itulah perbedaan dahulu dan sekarang. Wahyu bagi arjuna artinya dapat berkomunikasi dengan dewa, maka menyatulah diriku dengan dirimu. Spiritulnya formal itu spiritual, spiritual normatif juga spiritual.

Berfilsafat itu menyadari jika “aku” belum tahu, menyadari ketidakmampuanku, kapan “aku” mulai mengetahui, batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda ghaib, dan sebagainya itu diterangkan naik dimensi spiritual, filsafat transenden, turun menjadi psikologi, transenden filsafat itu disebut noumena. Noumen itu di luar fenomena, yang dilihat, dirasa, diraba, dipikirkan itu fenomena, maka roh dan arwah itu noumena. Seberapa orang itu tahu, bisa menggunakan berbagai metode, pengalaman, teori ke spiritual. Berbagai macam cara untuk mengetahui apa yang disebut dengan arwah, ada batasannya, batas-batas tertentu. Bagi pikiran saya, yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat itu potensi positif, neraka potensi negatif, dan surga potensi positif. Oleh karena itu raihnya surga ketika engkau masih di dunia tetapi bukan berarti surga dunia. Orang-orang yang sudah masuk surge secara psikologi, secara hukum kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum dialah orang-orang yang masuk neraka, jika secara spiritual nanti lagi. Itulah pikiran kita berdimensi yang dilihatpun berdimensi. Maka bagi anak kecil pohon berhantu padahal kata kakak supaya anak-anak takut dan tida merusak tanaman.

Berbicara dengan hewan, apakah definisi berbicara? Contoh ada burung, kemudian manusia mengucapkan “hush”, agar burung tersebut tidak memakan padi. Hal semacam itu sudah menunjukan “aku” mengetahui bahasa. Komunikasi dengan tumbuhan, ketika tumbuhan layu, “aku” sirami. Hal itu kalau diwacanakan dimana ketika daun menguning, itu tandanya tumbuhan tersebut membutuhkan air, kemudian disiramlah ia oleh pemilik tumbuhan, itulah komunikasi antar tumbuhan dan si penanam. Muncullah elegi, yaitu elegi tumbuhan membutuhkan air.

Jika di ranah spiritual, saya pernah mengalami pengalaman spiritual tinggal di masjid 10 hari belajar pada sufi untuk menertibkan tata cara berdoa, dan lain-lain. Ketika di sana dengan alamnya yang seperti itu rasanya aku pun enggan untuk pulang, hanya ingin berdoa terus. Ketika itu sensitifitas hati, rohani saya sangat tinggi sehingga kemampuan metafisik itu muncul. Sehingga ketika saya melihat seseorang yang makan bakmi dipinggir jalan yang sebelumnya bakminya tidak didoakan dan dia juga tidak berdoa sebelum memakannya, aku melihatnya seperti orang yang sedang memakan cacing.

4.      Bagaimana beragama ditinjau dari filsafat sedangkan filsafat pada umumnya jauh dari agama?

Ketika berfilsafat tetapkanlah dulu agama, keyakinan, hatimu, yakin dulu baru mulailah menggembarakan laying-layang pikiranmu, sebab kalau laying-layang terlalu jauh ketika belum punya agama (patokan) nanti lepas talinya jatuh kemana-mana, ke negeri majusi, kofar (sangat kafir), akhirnya ikut-ikutan demikian. Sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa, tidak akan mungkin dia menuntaskan perasaannya. Banyak sekali anda merasakan sesuatu yang tidak mampu anda pikirkan. Setiap saat anda merasakannya, dari sedih-gembira, gembira-sedih, empati, membantu orang, dan lian sebagainya. Pikiran itu sifatnya mensupport spiritualisme. Filsafat ini versi saya yaitu silahkan gunakan pikiranmu untuk memperkuat atau memperkokoh iman anda masing-masing dengan saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Di kitab-kitab suci disebutkan juga pentingnya cerdas dan berpikir dibanding dengan orang-orang yang tidak cerdas itu menjadi sumber godaan setan, seperti fitnah, mengatakan yang tidak baik, dan sebagainya.

5.      Bagaimana filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan misalnya aliran-aliran teologis, fiqih dimana hal tersebut merupakan istihad manusia. Itu berarti hasil pemikiran manusia juga? Dan konsekuensinya apa?

Jadi kalau saya, pada akhirnya spiritualitas itu kembali ke masing-masing karena itu urusanmu dengan Tuhanmu “habluminallah” dan juga ada tuntutan urusanmu dengan sesama “hambluminannas”. Kalau saya daripada sesuatu yang ada di luar kemampuan diri saya, ya secara alami artinya mengalir. Lihat diriku, orang tuaku, pikiranku, keluargaku, pengalamanku, tengoklah komunitasmu, keluarga, pikiranmu seperti apa spiritual itu selama ini. Hidup yang baik adalah masa lampau, sekarang dan yang akan datang.
Itulah tugas kita untuk berikhtiar mengetahui mana-mana yang sahih, yang kurang sahih, dan sebagainya. Manusia terbatas maka bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Contoh teknologi menunjukan dimulainya tanggal 1 syawal, saya pun tidak bisa melakukannya hanya memperkirakan saja. Maka saya mengikuti saja ketetapan aturan pemerintah, jika tidak ada ya mengikuti apa yang ada di lingkungan itu. Apak segala macam spiritualitas itu bersifat postulat, yang kemudian menjadi model di dunia ini. Subyek menentukan postulat bagi obyek, contoh kakak membuat aturan (postulat) bagi adiknya.  Strukktur berstruktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur. Struktur dirimu itu yang dinamis yang sedang menembus ruang dan waktu.

6.      Filsafat itu tidak ada benar dan salah, bagaimana menurut bapak mengenai hal tersebut?

Iya benar dalam filsafat itu tidak ada benar dan salah, maksudnya ialah pikiranmu saja, yang benar adalah sesuai dengan ruang dan waktu atau tidak.

7.      Filsafat itu kompleks atau sederhana?

Filsafat itu kompleks dan sederhana. Filsafat adalah alasanku mengapa mengarah kompleks dan penjelsanku mengapa sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan filsafatmu, filsafat sederhana sekali dengan olah pikir kamu mengerti. Kompleks karena intensif, sedalam dalamnya, bersifat radik sehingga ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu seluas-luasnya meliputi dunia dan akhirat yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu. Jika engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah gunakan alat lain yaitu spiritualitas dalam rangka menggapai kebenaran karena menurut Francis Bacon pengetahuanmu itu kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang untuk mencapai kebenaran menurut Francis Bacon:

a.       Kendala pasar: orang-orang mengatakan “oh begini, begitu, begini, begitu”  jadi kesimpulannya “begini”
b.      Kendala panggung: Artis itu mengatakan “begini” berarti yang benar “begini” (kebenaran panggung)

Pak Marsigit mengatakan A, B, C pada perkuliahan dan engkau sampai mati berhenti pada A, B, C yang dikatakan Pak Marsigit berarti engkau termakan oleh mitos-mitosnya. Hal itu harus dicerna, ditelaah, itulah mengapa saya heran tidak ada yang bertanya kepada saya maksud pertanyaan-pertanyaan saya. Berarti ada kecenderungan engkau terhipnotis dengan pertanyaan saya dan itu menjadi benar final bagi dirimu. Padahal itu bukan kehendak dari filsafat ini, kau harus membuat antitesisnya karena yang namanya menguji ya sesuka saya yang menguji agar engkau tidak menjadi sombong, karena filsafat itu terus menerus.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar