Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Kamis, 29 Oktober 2015
Ruang 306 lantai, jam 07.30 –
09.10 WIB
Bismillahirohmannirohim
Assalammu’laikum Wr. Wb.
Seperti biasa perkuliahan pada pagi hari
ini dimulai dengan kuis atau tes yang diajukan Bapak Marsigit terkait filsafat,
diantaranya material, formal, normatif dan spiritual. Seperti biasa pula
tidaklah mengherankan jika nilai yang kami dapatkan kisaran 0-10 saja.
Selanjutnya perkuliahan kali ini diisi dengan sesi tanya jawab, adapun beberapa
pertanyaan yang diajukan mahasiswa PEP TA 2015 Kelas B, sebagai berikut:
1. Mengapa masih saja
saya tidak mampu menjawab pertanyaan dari bapak di setiap kali kuis atau tes
meskipun saya sudah membaca elegi-elegi Bapak?
Filsafat itu dirimu sendiri. Filsuf
besarpun menjawab pertanyaan-pertanyaan saya bisa mendapat 0, maka
metode filsafat itu hidup. Metode hidup itu terjemah menterjemahkan.
Terjemahkanlah diriku bukan aksesorisnya tetapi pikirannya, caranya adalah
dengan membaca. Kemudian aku menerjemahkan dirimu dengan cara bertanya dan
ternyata masih kurang”. Pada dasarnya manusia hanya dapat membaca, berusaha,
berikhtiar jangan patah semangat tetapi harus terus dilanjutkan.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak hanya untuk mengetahui pikiran
mahasiswa tetapi sebagai sarana mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada
bagi masing-masing mahasiswa. setidaknya setelah mendapatkan pertanyaan mereka
memiliki kesadaran untuk menembus ruang dan waktu.
Jangankan manusia, hewan, tumbuhan, batu
pun demikian menembus ruang dan waktu, contohnya tidak ada batu yang protes
apabila kehujanan, kalau pun protes batu tersebut menembus ruang dan waktu
dengan berbagai metodologi ruang tertentu. tetapi diam disitu “aku” sebut di
depannya itu menembus waktu. Contoh pada hari kamis/pada hari ini/pada tahun
ini,dll kabut asap…. Apakah ada yang tidak dikaitkan dengan waktu, silahkan
menyebutkan sifat dari sekian miliar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu.
Bahkan notabene yang terbebas dari ruang dan waktu yang ada dalam pikiran anda.
Contoh 2 + 2 = 4 (identitas). Tetapi kalau hari ini 2 + 2 = 4 tidak terbebas
dari waktu. Ketika sesuatu itu terikat ruang dan waktu itu bersifat
kontradiktif, ada sifat-sifatnya, dan sifat itu bersifat sub-ordinat, menjadi
predikat dari obyeknya.
2. Bagaimana filsafat
dalam pendidikan Indonesia dan bagaimana peran filsafat untuk meningkatkan mutu
pendidikan Indonesia?
Hal tersebut dijelaskan oleh Pak
Marsigit sudah lengkap dijelaskan pada blognya. Namun beliau menambahkan untuk
mengetahui praksis pendidikan alangkah baiknya juga mengetahui landasan,
latar belakang dan masa depan pendidikan . hal tersebut adalah wadah dari
filsafat pendidikan, belajarlah filsafat untuk mengetahuinya, karena disana
terdapat pilot-pilotnya, ideology pendidikan, politik pendidikan, pendidikan
kontekstual,. Tidak perlu mengkajinya hingga ke luar negeri karena di Indonesia
dapat ditemui hal-hal tersebut.
3. Apakah filsafat dapat
digunakan untuk berinteraksi dengan makhluk lain, seperti hewan, tumbuhan?
Filsafat itu merupakan wacana, bahasa,
penjelasan, maka akan ada jarak diantara penjelasan dan praksisnya. Fisafat itu
merupakan olah pikir, sehingga semua olah pikir yang ada digunakan untuk
menjelaskan berbagai fenomena termasuk fenomena ghaib, dimana semakin naik ke
atas merupakan ranah spiritual serta turun menjadi ranah psikologi. Dalam
filsafat itu lengkap kajiannya, ada spiritual, psikologi, yang bagi orang awam
menyebutnya sebagai ilham. Spiritual menunjuk pada Tuhan. Jika seseorang
mendapatkan pencerahan tetapi tidak mengetahui dari mana sebabnya atau datang
begitu saja itu dinamakan ilham. Ternyata jika kita mau meneliti dari setiap
yang ada dan mungkin ada, “aku” selalu mendapatkan ilham. “Aku” dapat menjawab
pertanyaan karena mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham. “Kamu”
bisa tidak menjelaskan seberapa tidak proses dalam pikiranmu dalam menjawab
tadi, dan tidak akan bisa sempurna dan pada akhirnya itu merupakan ilham juga.
Wahyu itu juga merupakan ilmu, hanya saja orang dahulu dipersonifikasikan
sebagai benda hidup karena audiensinya tradisonal. Contoh adalah ketika arjuna
pergi ke dalam hutan yang sepi untuk menyendiri, menyepi, jika sepi bagi saat
ini engkau itu adalah berdiam di kamar membaca elegi Pak Marsigit disitulah
engkau mendapatkan pengetahuan yang banyak seklai dari yang ada dan mungkin
ada. Itulah perbedaan dahulu dan sekarang. Wahyu bagi arjuna artinya dapat
berkomunikasi dengan dewa, maka menyatulah diriku dengan dirimu. Spiritulnya
formal itu spiritual, spiritual normatif juga spiritual.
Berfilsafat itu menyadari jika “aku”
belum tahu, menyadari ketidakmampuanku, kapan “aku” mulai mengetahui, batas
antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda ghaib, dan sebagainya itu diterangkan
naik dimensi spiritual, filsafat transenden, turun menjadi psikologi,
transenden filsafat itu disebut noumena. Noumen itu di luar fenomena, yang
dilihat, dirasa, diraba, dipikirkan itu fenomena, maka roh dan arwah itu
noumena. Seberapa orang itu tahu, bisa menggunakan berbagai metode, pengalaman,
teori ke spiritual. Berbagai macam cara untuk mengetahui apa yang disebut
dengan arwah, ada batasannya, batas-batas tertentu. Bagi pikiran saya, yang
namanya setan itu potensi negatif, malaikat itu potensi positif, neraka potensi
negatif, dan surga potensi positif. Oleh karena itu raihnya surga ketika engkau
masih di dunia tetapi bukan berarti surga dunia. Orang-orang yang sudah masuk
surge secara psikologi, secara hukum kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak
masuk surga secara hukum dialah orang-orang yang masuk neraka, jika secara
spiritual nanti lagi. Itulah pikiran kita berdimensi yang dilihatpun
berdimensi. Maka bagi anak kecil pohon berhantu padahal kata kakak supaya
anak-anak takut dan tida merusak tanaman.
Berbicara dengan hewan, apakah definisi
berbicara? Contoh ada burung, kemudian manusia mengucapkan “hush”, agar burung
tersebut tidak memakan padi. Hal semacam itu sudah menunjukan “aku” mengetahui
bahasa. Komunikasi dengan tumbuhan, ketika tumbuhan layu, “aku” sirami. Hal itu
kalau diwacanakan dimana ketika daun menguning, itu tandanya tumbuhan tersebut
membutuhkan air, kemudian disiramlah ia oleh pemilik tumbuhan, itulah
komunikasi antar tumbuhan dan si penanam. Muncullah elegi, yaitu elegi tumbuhan
membutuhkan air.
Jika di ranah spiritual, saya pernah
mengalami pengalaman spiritual tinggal di masjid 10 hari belajar pada sufi
untuk menertibkan tata cara berdoa, dan lain-lain. Ketika di sana dengan
alamnya yang seperti itu rasanya aku pun enggan untuk pulang, hanya ingin
berdoa terus. Ketika itu sensitifitas hati, rohani saya sangat tinggi sehingga
kemampuan metafisik itu muncul. Sehingga ketika saya melihat seseorang yang
makan bakmi dipinggir jalan yang sebelumnya bakminya tidak didoakan dan dia
juga tidak berdoa sebelum memakannya, aku melihatnya seperti orang yang sedang
memakan cacing.
4. Bagaimana beragama
ditinjau dari filsafat sedangkan filsafat pada umumnya jauh dari agama?
Ketika berfilsafat tetapkanlah dulu
agama, keyakinan, hatimu, yakin dulu baru mulailah menggembarakan laying-layang
pikiranmu, sebab kalau laying-layang terlalu jauh ketika belum punya agama
(patokan) nanti lepas talinya jatuh kemana-mana, ke negeri majusi, kofar
(sangat kafir), akhirnya ikut-ikutan demikian. Sehebat-hebatnya manusia
berpikir setengah dewa, tidak akan mungkin dia menuntaskan perasaannya. Banyak
sekali anda merasakan sesuatu yang tidak mampu anda pikirkan. Setiap saat anda
merasakannya, dari sedih-gembira, gembira-sedih, empati, membantu orang, dan
lian sebagainya. Pikiran itu sifatnya mensupport spiritualisme. Filsafat ini
versi saya yaitu silahkan gunakan pikiranmu untuk memperkuat atau memperkokoh
iman anda masing-masing dengan saling mengingatkan sesuai dengan agamanya
masing-masing. Di kitab-kitab suci disebutkan juga pentingnya cerdas dan
berpikir dibanding dengan orang-orang yang tidak cerdas itu menjadi sumber
godaan setan, seperti fitnah, mengatakan yang tidak baik, dan sebagainya.
5. Bagaimana filsafat
menjelaskan ketetapan Tuhan misalnya aliran-aliran teologis, fiqih dimana hal
tersebut merupakan istihad manusia. Itu berarti hasil pemikiran manusia juga?
Dan konsekuensinya apa?
Jadi kalau saya, pada akhirnya
spiritualitas itu kembali ke masing-masing karena itu urusanmu dengan Tuhanmu
“habluminallah” dan juga ada tuntutan urusanmu dengan sesama “hambluminannas”.
Kalau saya daripada sesuatu yang ada di luar kemampuan diri saya, ya secara
alami artinya mengalir. Lihat diriku, orang tuaku, pikiranku, keluargaku,
pengalamanku, tengoklah komunitasmu, keluarga, pikiranmu seperti apa spiritual
itu selama ini. Hidup yang baik adalah masa lampau, sekarang dan yang akan
datang.
Itulah tugas kita untuk berikhtiar
mengetahui mana-mana yang sahih, yang kurang sahih, dan sebagainya. Manusia
terbatas maka bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Contoh teknologi
menunjukan dimulainya tanggal 1 syawal, saya pun tidak bisa melakukannya hanya
memperkirakan saja. Maka saya mengikuti saja ketetapan aturan pemerintah, jika
tidak ada ya mengikuti apa yang ada di lingkungan itu. Apak segala macam
spiritualitas itu bersifat postulat, yang kemudian menjadi model di dunia ini.
Subyek menentukan postulat bagi obyek, contoh kakak membuat aturan (postulat)
bagi adiknya. Strukktur berstruktur, dirimu yang memahami struktur juga
berstruktur. Struktur dirimu itu yang dinamis yang sedang menembus ruang dan
waktu.
6. Filsafat itu tidak ada
benar dan salah, bagaimana menurut bapak mengenai hal tersebut?
Iya benar dalam filsafat itu tidak ada
benar dan salah, maksudnya ialah pikiranmu saja, yang benar adalah sesuai
dengan ruang dan waktu atau tidak.
7. Filsafat itu kompleks
atau sederhana?
Filsafat itu kompleks dan sederhana.
Filsafat adalah alasanku mengapa mengarah kompleks dan penjelsanku mengapa
sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan filsafatmu, filsafat
sederhana sekali dengan olah pikir kamu mengerti. Kompleks karena intensif,
sedalam dalamnya, bersifat radik sehingga ada istilah radikalisme, ekstensif
yaitu seluas-luasnya meliputi dunia dan akhirat yang masih bisa engkau jangkau
melalui pikiranmu. Jika engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah gunakan alat
lain yaitu spiritualitas dalam rangka menggapai kebenaran karena menurut
Francis Bacon pengetahuanmu itu kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang
untuk mencapai kebenaran menurut Francis Bacon:
a. Kendala pasar:
orang-orang mengatakan “oh begini, begitu, begini, begitu” jadi
kesimpulannya “begini”
b. Kendala panggung:
Artis itu mengatakan “begini” berarti yang benar “begini” (kebenaran panggung)
Pak Marsigit mengatakan A, B, C pada
perkuliahan dan engkau sampai mati berhenti pada A, B, C yang dikatakan Pak
Marsigit berarti engkau termakan oleh mitos-mitosnya. Hal itu harus dicerna,
ditelaah, itulah mengapa saya heran tidak ada yang bertanya kepada saya maksud
pertanyaan-pertanyaan saya. Berarti ada kecenderungan engkau terhipnotis dengan
pertanyaan saya dan itu menjadi benar final bagi dirimu. Padahal itu bukan
kehendak dari filsafat ini, kau harus membuat antitesisnya karena yang namanya
menguji ya sesuka saya yang menguji agar engkau tidak menjadi sombong, karena
filsafat itu terus menerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar